Analisis Framing Berita Pembunuhan dalam Asahi Shinbun dan Yomiuri Shinbun



Wahyu Setiorini
alumni Prodi Bahasa Jepang, Fakultas Sastra, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Parwati Hadi Noorsanti
dosen Prodi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB); peneliti pada Pusat Kajian Budaya Jepang, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya

D. Jupriono
dosen Fakulaltas Sastra dan FISIP; peneliti pada Pusat Kajian Media Massa dan Media Komunikasi Tradisional (PKM3KT), LPPKM; Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya


Abstrak. Fokus umum riset ini adalah perbedaan pembingkaian berita pembunuhan antara harian Asahi Shinbun dan Yomiuri Shinbun. Secara lebih khusus, akan ditelaah pembingkaian lewat: (a) pilihan kata (simbol) serta penonjolan atau minimalisasi realitas yang dilakukan dalam judul, teras, dan tubuh berita; (b) motif yang melatarbelakangi pembingkaian peristiwa kedua surat kabar tersebut. Data penelitian, yang berupa berita pembunuhan terhadap seorang gadis yang dimuat pada harian Asahi Shinbun dan Yomiuri Shinbun,dikaji dengan analisis pembingkaian (framing analysis, sebagai salah satu Critical Discourse Analysis. Temuan penelitian ini adalah: Asahi mengaburkan tersangka pembunuhan dan seolah-olah menyalahkan korban, sedang Yomiuri mengungkap fakta orang–orang yang dicurigai melakukan pembunuhan dan lebih berpihak pada korban. Asahi bersikukuh pada objektivitas dalam tradisi positivisme dan linguistik deskriptif, sedang Yomiuri menjaga “etika partisipatoris” (participatory ethic), yang berpihak pada korban, subalternan, dan kelompok lemah dan dilemahkan oleh struktur sosial yang tidak adil, terutama dalam masyarakat kapitalistik.
Kata Kunci: analisis framing, minimalisasi, pembingkaian peristiwa, critical discourse analysis, participatory ethic


Perda Larangan Duek Phang (Duduk Mengangkang) 
bagi Perempuan Lhokseumawe,  Aceh
Analisis Wacana Kritis Derrida

Makalah Seminar Nasional Bahasa dan Sastra (Senabastra) V,Prodi Sastra Inggris, FISIB, Universitas Negeri Trunojoyo Madura,Bangkalan, 27 Juni 2013




D. Jupriono
Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya







Sri Andayani
Pusat Pengkajian dan Penelitian Gender, LPPKM;                                                               Prodi Administrasi Bisnis, FISIP;Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya


 




Indah Murti
Prodi Administrasi Publik, FISIP, 
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya





ABSTRAK
Awal Januari 2013, Pemerintah Kota Lhokseumawe memberlakukan “seruan bersama” qanun (perda) No. 002/2013 tertanggal 7 Januari 2013 tentang larangan duduk mengangkang (duek phang) bagi perempuan dewasa yang dibonceng dengan sepeda motor, demi tegaknya syariat Islam secara kaffah dan terjaganya nilai-nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Aceh. Perda baru ini memicu opini publik dari berbagai kalangan. Banyak yang menyatakan dukungan, tetapi juga tidak sedikit yang melontarkan protes. Dengan perspektif analisis wacana kritis dari perspektif dekonstruksi Jacques Derrida, teks qanun tersebut mengandung pertentangan dalam dirinya, yakni contradictio in terminis — sebuah rekayasa tekstual yang lazim dimanfaatkan penguasa untuk menyelubungkan muslihat dominasi. Kontradiksi antaristilah dalam qanun ini justru menyebabkan reduksi dan pendangkalan makna syariat Islam dan nilai budaya-adat masyarakat. Teknik dekonstruksi Derrida ini akhirnya juga sanggup menguak realitas tekstual bahwa yang hendak ditegakkan bukanlah syariat Islam dan nilai budaya masyarakat Aceh, yang hendak dilindungi bukanlah citra islami perempuan Lhokseumawe, melainkan kepentingan pemerintah lokal yang beroperasi di balik teks qanun ini.

Kata-kata kunci: analisis wacana kritis, dekonstruksi, otonomisasi teks, ideologi teks, diseminasi makna

PREFERENSI NILAI DALAM EPOS RAMAYANA & MAHABHARATA: KONSTRUKTIF, DESTRUKTIF, DILEMATIK



 PREFERENSI NILAI DALAM EPOS RAMAYANA & MAHABHARATA: KONSTRUKTIF, DESTRUKTIF, DILEMATIK



Value Preference in Ramayana and Mahabarata Epic:Constructive, Destructive, Dillematic

Makalah dibentangkan pada Konferensi Internasional Kebudayaan Daerah 
Universitas Negeri Jember, 8-9 Oktober 2014


Achludin Ibnu Rochim
Prodi Administrasi Publik, FISIP Untag Surabaya

D. Jupriono
Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP Untag Surabaya
juprion@untag-sby.ac.id

Indah Murti
Prodi Administrasi Publik, FISIP Untag Surabaya
endah@untag-sby.ac.id

ABSTRACT: The immortality and greatness of puppet stories make many people to take them as the vital source in searching values for ethic and character education. Through this study, it will show that gods and punakawan stories, as well as both Ramayana and Mahabharata epics, do not only just provide story particles which contain constructive values (to develop character), but also destructive (to destroy character) and dillematic-existential (difficult to decide value preference). The varied values contained there, cause children to be confused in choosing and searching model. Therefore it needs selection, modification, and adaptation which are proportional-contextual in presenting gods and punakawan stories, as well as Ramayana and Mahabarata epics, for education of moral and character values toward Indonesian children.
Keywords: moral value, character development, constructive value, destructive value, dillematic-existential

ABSTRAK: Keabadian dan kebesaran cerita wayang membuat banyak pihak merujuknya sebagai sumber vital pencarian nilai-nilai bagi pendidikan etika dan karakter bangsa. Melalui pengkajian dalam tulisan ini, akan ditunjukkan bahwa kisah-kisah para dewa dan punakawan, serta kedua epos Ramayana dan Mahabharata, tidak hanya menyajikan unsur-unsur cerita yang mengandung nilai-nilai konstruktif (membangun karakter), tetapi juga destruktif (merusak karakter) dan dilematik-eksistensial (menyulitkan penentuan preferensi nilai). Beragamnya nilai yang dikandungnya menyebabkan anak-anak akan bingung dalam memilih dan mencari teladan. Oleh karena itu, diperlukan seleksi, modifikasi, dan penyaduran yang proporsional-kontekstual dalam mengangkat kisah-kisah para dewa dan punakawan, serta epos Ramayana dan Mahabharata, bagi pendidikan nilai moral dan karakter bangsa kepada anak-anak Indonesia.
Kata-kata kunci: nilai moral, perkembangan karakter, nilai konstruktif, nilai destruktif, dilematik-eksistensial